M.E.R.D.E.K.A
Oleh KH. Rahmat Abdullah
Kalau ada kata malang bagi nasib selain manusia, itulah kata malang bagi nasib kemerdekaan, makhluk yang selalu dirindukan sebelum bertemu dan disia-siakan setelah tergapai. Kemerdekaan yang diperjuangkan para martir, beberapa tahun kemudian jatuh lagi ke tangan para penjarah, dengan cara dan tampilan lain. Apa perlu perang apabila beberapa tahun setelah kemerdekaan bangsa pejuang itu mengikuti ideologi dan langkah mantan musuhnya yang telah merenggut jutaan nyawa? Apa yang dilakukan China dan Vietnam setelah perjuangan ideologi mereka menang? Berkiblat seakurat atau sedekat mungkin dengan mantan musuh? Berapa jarak mereka dengan mantan penjajah mereka?
Sufi, burung unta & pembebasan sejati
Ada kontroversi dalam kiprah kaum sufi, antara tudingan fatalis, tak peduli dan anti perjuangan dunia di satu sisi dan sanjungan karena kepeloporan merubah kondisi masyarakat, membangun etos kemandirian sosial dan ekonomi, sampai perjuangan kemerdekaan di sisi lain. Untuk yang kedua, Afrika Utara menjadi contoh khas dengan gerakan Assanusiyah dan tarekat Sunniahnya (mereka lebih merupakan gerak reformasi daripada sufi). Terkait langsung atau tidak, dalam diri para penganutnya tersimpan energi yang luar biasa besarnya. Itulah semangat merdeka. Soal kapan mereka mulai action, kembali pada ketajaman analisa dan ketepatan kalkulasi atau kejernihan intuisi yang kerap di kalangan aliran khurafat disampul dengan kesakralan kewalian. Ta’wil dan pembenaran akhir akan selalu muncul. Bila ada rezim represif yang tangannya berlumuran darah ummat dan kaya dari hasil merampok kekayaan rakyat lalu didukung oleh ratusan gerakan tarekat dengan berbagai rumusan tasawuf, itulah sebagian dari contoh pertama.
Akankah kita tutup mata terhadap problematika ummat, seperti tudingan terhadap burung unta? Manusia gerak dan kader merdeka dituntut untuk mengantarkan ummat kepada tujuan agama itu diturunkan, “Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al Baqarah: 257, Ibrahim: 1). Geraklah yang akan menyelesaikan tuntutan antara inovasi yang melahirkan wilayah aqidah, fiqh dan tasawuf atau akhlaq, atau kembali kepada ashalah (keaslian) kesederhanaan generasi awal. Gerak telah menyibukkan para sahabat dari permasalahan teoritik dan perdebatan kulit.
Seorisinil apa pun suatu seruan, bila tidak diusung oleh orang-orang yang bebas dari kejumudan, egoisme dan fanatisme golongan, maka bi’dah perpecahan dan saling membarakan akan subur. Mungkin, kurang apa kaum Khawarij dalam ikhlas dan semangat juang? Kejumudan (stagnansi, -red), kepicikan dan anti dialog telah menjerumuskan mereka sebagai kelompok bi’dah pertama; fi-atun syaqqal asha.
Sebaliknya kekayaan ilmiah kaum fuqaha dan ulama minus ikhlas dan komitmen perjuangan, hanya akan menyematkan di diri mereka sebutan ulama lisan. Tak ada yang dapat disebut sebagai tinggalan baik, lisana shidqin (lisan kejujuran) pada generasi mutakhir (QS. 26:84). Yahudi dengan dominasi informasi yang mereka simpangkan dan Nasrani dengan dominasi semangat beramal tanpa landasan yang kokoh, telah menjadi tawanan hawa nafsu, ketakaburan, kedengkian, kerahiban, keraguan, oportunisme, kultus indifidu dan berbagai penyakit sosial yang diidap sebagian penduduk dunia, dan menular ke jaringan tubuh ummat. Dunia terbelah dalam kutub-kutub Maghdub ‘alaihim (kemurkaan, -red) dan Dhaallien (kesesatan, -red). Ditunggu peran mereka yang meniti dan membimbing di atas jalan lurus.
lngatan Sejarah & Karat-karat Jahiliyah
Begitu panjangnya kisah Bani Israil dengan segala permasalahan mereka, mestinya jadi cermin bagi siapa yang membacanya. la kitab yang diturunkan-Nya dan didalamnya ada peringatan dan kemuliaan (QS. Al-Anbiya’: 10). Allah tidak menjadikan pemikiran kebangsaan dan kesukuan sebagai syarat untuk boleh menerima peringatan dan menjadikannya konsep kemenangan. Seluruh kisah Bani Israil yang tertindas (mustadh’afien) adalah cermin kita. Bukan karena kita Bani Israil, tetapi kita sejalan, sealur dan segelombang dengan nabi Musa & Harun serta para pengikut mereka yang beriman.
Seluruh bentuk kemuliaan dan sanjungan Allah atas kesabaran mereka adalah kemuliaan kita. Seluruh bentuk keburukan yang dicerca-Nya adalah kelemahan yang harus kita hindari. Bukankah kelakuan Bani Israil yang begitu gandrung dan kecanduan menyembah anak sapi, bagian dari kelupaan sejarah kita? Publik masih bisa menyaksikan epos kepahlawanan yang mulai kehilangan darah di panggung-panggung peringatan kemerdekaan atau tayangan basa-basi di layar kaca. Entah apa yang bergerak di otak para aktor 17-an ketika mereka mengejar, menyergap dan mengusir penjajah dengan patriotik dan heroik, yang jelas sesudah itu nyaris 100% jiwa dan irama hidup bangsa mencerminkan perilaku penjajah. Sangat bisa dipercaya bila Bani Israil sangat membenci bangsa Qibthy (Egypt) yang menzalimi mereka melalui Fir’aun dan sistemnya.
Mestinya begitu alergi mereka terhadap segala tradisi dan upacara keberhalaan dan kemusyrikan bangsa Qibthy. Tetapi ajaib, hanya beberapa saat setelah eksodus dan Fir’aun ditenggelamkan- Nya di laut, mereka segera meresolusi nabi Musa: “Hai Musa, buatkan kiranya untuk kami satu tuhan (berhala), sebagaimana mereka punya banyak tuhan (berhala)” (QS. Al-A’raf: 138). Begitu mudahnya mereka diperdayakan oleh Samiri (QS. Al-A’raf: 148). Sebaliknya begitu sukarnya mereka mengubah mentalitas dari budak yang pengecut, pesimisis dan fatalis menjadi merdeka dan optimis (QS. Al-Maidah: 24), fikiran rakus dan materialistik (QS. Al-Baqarah: 61), serta jiwa mengambang yang tak pernah merasa perlu menyapa Allah dengan kerendahan hati (QS. Al-Baqarah: 61).
Pasukan Muslimin & Kegentaran Musuh
Hukum berlaku bahwa sejumlah kecil orang memerintah sejumlah besar orang, dan tidak sebaliknya. Ada hal yang lebih perkasa dan berdaya dibandingkan dengan fisik, itulah jiwa. Kalau kemerdekaan adalah fitrah, maka kesalahan sesudah itu, bisa seperti orang yang makan salah niat atau lupa basmalah. Berkah kemerdekaan tercabut karena kehilangan nama Allah waktu mengumumkannya atau dorongan motivasi perang antar manusia berbeda warna.
Di antara kelebihan yang diberikan kepada Rasulullah SAW ialah, “Aku dimenangkan berkat ru’b (daya getar dan menggentarkan) sebulan perjalanan.” Para tiran sangat takut suatu saat rakyat akan menghukum mereka. Kekuatan Islam yang datang dengan keadilan yang berlaku untuk semua, menggenapkan ketakutan itu di hati para tiran dan koruptor. Rakyat mendapatkan kembali kemerdekaan, tanpa perlu merasa berkhianat kepada bangsa. Islam tidak datang atas nama bangsa, suku, ras dan warna, melainkan atas nama kemerdekaan dan keadilan universal.
Isti’mar, Kolonialisme, Persemakmuran dan Penjajahan
Bahasa menunjukkan bangsa, semoga masih relevan. Bahasa Melayu Indonesia masih memberikan makna penjajahan bagi kata colonialism (pendudukan, penjarahan, penjelajahan) . Disana kesan negatif dan jahat, masih terpelihara dengan baik. Bahasa Melayu Malaysia menyebutkan negara-negara bekas jajahan dengan Commonwealth alias persemakmuran. Para ahli kamus bahasa Arab modern memberikannya istilah Isti’mar (pemakmuran) , seperti Abu Louis Alyasui, pengarang kamus Munjid, memaknai kata thulaqaa (orang-orang yang diberi amnesti oleh Rasulullah SAW sebagai, “Orang-orang yang dimasukkan kedalam Islam secara paksa”).
Kesulitan berangkat sebagai pekerja legal, plus pemerasan yang selalu berjalan telah memurukkan mereka menjadi pekerja ilegal, indoktrinasi yang menyesatkan telah menggamangkan para pegawai untuk mengeritik atasan dan stigmasi permanen Islam sebagai kekumuhan, kebodohan dan keterbelakangan merangsang untuk mengkaji ulang entry merdeka. Kegagahan makna leksikal patriot dan anti penjajah, akankah hanya bertahan pada kata?
Ada pekik Merdeka. Tetapi semangat pemekiknya telah layu oleh hedonisme, pengkhianatan dan kebodohan.
Majalah Tarbawi Edisi 42 /Jumadas Tsaniyah 1423 H/29 Agustus 2002 M
Sumber: Milis Tarbawi